Artikel

Penyakit Kering Alur Sadap (KAS)

Oleh : Haizar Rachman
Koordinator Penyuluh Perkebunan
Dinas Peternakan dan Perkebunan
Kabupaten Banjar

Kering Alur Sadap ( KAS) merupakan salah satu penyakit fisiologis pada tanaman karet. Penyebab pokok terjadinya KAS adalah adanya gangguan pada sistem pembuluh lateks dan kurangnya pasokan sukrosa yang berkelanjutan sehingga memicu terbentuknya senyawa-senyawa radikal tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan lutoid. Ketika lutoid pecah terjadi proses koagulasi lateks dalam pembuluh lateks. Koagulasi tersebut menjadi penyebab terbentuknya jaringan tilasoid, tersumbatnya pembuluh lateks, dan akhirnya lateks tidak dapat mengalir pada saat disadap. Peristiwa ini disebut sebagai kering alur sadap (KAS). Penyakit fisiologis ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain jenis klon, penerapan sistem sadap dan tataguna panel slot88, serta keseimbangan hara tanaman. Pemilihan klon yang sesuai, penerapan sistem sadap normatif sesuai tipologi klon, pemeliharaan tanaman yang lebih baik dan pengawasan dini adalah upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk menangani KAS.

Gejala serangan penyakit ini umumnya ditandai dengan terhentinya aliran lateks dan mengeringnya bidang sadap.

Penyebab KAS

KAS tidak disebabkan oleh patogen melainkan berupa gangguan fisiologis karena tanaman mengalami keletihan akibat ketidakseimbangan antara lateks yang dieksploitasi dengan lateks yang terbentuk kembali (regenerasi/ biosintesis). Penyadapan yang terlalu sering dan tidak sesuai norma sadap terlebih lagi jika disertai dengan penggunaan bahan perangsang lateks ethepon (ethrel), kondisi ini memiliki peluang yang sangat besar untuk membuat pohon karet tidak mengeluarkan lateks (KAS).

Prinsip penyadapan yang baik adalah mengambil partikel karet yang sudah diregenerasi atau disintesis tanaman dalam jaringan pembuluh lateks. Penyadapan yang berlebihan sebelum regenerasi lateks terjadi hanya mengeluarkan lebih banyak serum, sehingga lebih banyak merugikan tanaman. Over eksploitasi bisa terjadi karena terlalu sering pohon disadap melebihi kapasitasnya, atau pemberian stimulan yang berlebihan sehingga lateks terus mengalir dengan membuang banyak serum.

Secara fisiologis, ketidak seimbangan ini mengakibatkan sel-sel pembuluh lateks mengalami keletihan (fatigue) sehingga banyak membentuk senyawa radikal bebas. Senyawa radikal bebas berupa O2, OH dan Active oksidative spesies (AOS). Senyawa tersebut dapat menggangu enzim-enzim yang terlibat dalam biosintesis karet seperti rubber transferase dan prenyl transferase. Kedua enzim tersebut berperan mengubah mevalonat menjadi partikel karet. Gangguan aktivitas enzim-enzim tersebut mengakibatkan penumpukan sukrosa, HMG CoA dan mevalonat.

Pengendalian KAS

KAS dapat dikendalikan dengan cara pengerokan kulit yang sakit hingga kedalaman 3-4 mm dari kambium, kemudian diikuti dengan pengolesan hormon untuk meregenerasi pertumbuhan kulit pulihan. Pengolesan hormon dilakukan pada hari ke 1, 30, dan 60 setelah pengerokan kulit. Selama 3 bulan pengobatan tanaman tidak disadap. Penyadapan pada panel sehat lainnya dapat dilakukan 1 bulan setelah pengobatan terakhir.

Untuk mencegah serangan hama bubuk, panel yang sudah dikerok segera diolesi atau disemprot dengan insektisida. Aplikasi insektisida yang tepat dilakukan sebelum pengolesan hormon. Penyemprotan insektisida dilakukan selama 1 bulan (4x) dengan interval 7 hari sekali.

Penerapan sistem sadap yang sesuai berdasarkan tipologi klon dapat mencegah serangan KAS.

Pengerokan kulit batang yang terserang KAS. Kulit luar dikerok hingga ketebalan kulit menjadi 3 – 4 mm dari kambium. Untuk menghindari datang hama penggerek, serpihan bekas kerokan kulit harus dibakar.

Pengolesan hormon penumbuh kulit untuk pengobatan KAS. Pelumasan hormon dilakukan secara merata hingga seluruh kulit.

Gejala dan Pengendalian Kering Alur Sadap pada Tanaman Karet

Seperti halnya penyakit mouldy rot dan juga kanker karis, kering alur sadap juga terjadi di bagian sadapan tanaman karet. Penyakit kering alur sadap mengakibatkan keringnya alur sadap sehingga tidak menghasilkan lateks. Kering alur sadap disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering disertai penggunaan bahan perangsang lateks.

Kering alur sadap ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap. Ketika dibiarkan maka keseluruhan       alur sadap akan mengering dan berubah warna menjadi coklat karena terbentuk gum (blendok). Gejala lain yang timbul dari penyakit ini adalah terjadinya pecah-pecah pada kulit dana pembengkakan pada batang tanaman.

[meluas pada kulit yang seumuran pada pohon yang sama. Tanaman yang berasal dari biji (seedling) dan tanaman yang membentuk daun baru sering mendapatkan gangguan kering alur sadap.

Beberapa langkah untuk mencegah atau mengendalikan penyakit kering alur sadap adalah sebagai berikut:

  1. menghindari penyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian perangsang. Terutama klon-klon yang peka seperti PR 300, PR 261, BPM 1, PB 235, PB 260 dan RRIM 728.
  2. menurunkan intensitas penyadapan, dari yang semula S2/d2 menjadi S2/d3 atau S2/d4 dan menghentikan penyadapan ketika lebih dari 10% tanaman di kebun mengalami kering alur sadap.
  3. mengupas kulit yang kering sampai batas cambium dengan memakai pisau sadap atau parang. Bekas luka diberi campuran fungisida indafol dengan minyak sawit dengan perbandingan 5:100. Penyadapan dilanjutkan di bawah kulit yang kering atau di penel yang lain.
  4. penggunaan perangsang lateks pada tanaman yang terkena kering alur sadap dihentikan.
  5. bila semua panel mengalami kekeringan, maka pohon diistirahatkan untuk sementara waktu.
  6. diberikan pupuk yang lebih dari dosis normal untuk mempercepat pemulihan kulit.

gejala yang diamati adalah :

  1. Tidak mengalirnya lateks dari sebagian alur sadap.
  2. Dalam beberapa minggu keseluruhan alur sadap kering tidak mengeluarkan lateks.
  3. Bagian yang kering berwarna coklat karena pada bagian ini terbentuk gum (blendok).
  4. Kekeringan kulit meluas ke kulit lainnya yang seumur tapi tidak meluas dari kulit perawan ke kulit pulihan atau sebaliknya.
  5. Terjadinya pecah-pecah pada kulit dan pembengkakan  atau tonjolan pada batang tanaman.

Tanaman terserang KAS memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lebih rendah baik di dalam lateks maupun kulit dibandingkan dengan tanaman sehat. Pengendalian preventif dapat dilakukan dengan kultur teknis seperti pemeliharaan optimal, penerapan sistem eksploitasi sesuai tipologi klon, dan monitoring gejala awal KAS secara rutin melalui diagnosa lateks. Pengendalian secara kuratif dapat dilakukan dengan teknik bark scraping, aplikasi formula NoBB, atau antico F-96.

Prinsip penyadapan yang baik adalah mengambil partikel karet yang sudah diregenerasi atau disintesis tanaman dalam jaringan pembuluh lateks.

Penyadapan yang berlebihan sebelum regenerasi lateks terjadi hanya mengeluarkan lebih banyak serum, sehingga lebih banyak merugikan tanaman.

Over eksploitasi bisa terjadi karena terlalu sering pohon disadap melebihi kapasitasnya, atau pemberian stimulan yang berlebihan sehingga lateks terus mengalir dengan membuang banyak serum.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit.

Tanaman yang sering disadap dan/atau disertai penggunaan bahan perangsang lateks. Tanaman tidak dipelihara secara optimal dan tanaman yang dalam proses pembentukan daun baru. KAS juga dapat ditemukan pada tanaman yang belum pemah disadap. Klon yang rentan terhadap MS:BPM 24, PB 260, PB 235, PB 330 dan RRIC 100. (Balai Penelitian Getas, 2007)

Menurut Hartati. S, (2015). Penularan & Pernyebaran Kering Alur Sadap (KAS).

  1. KAS menular dari kulit yang seumur pada pohon yang sama.
  2. Klon yang berproduksi tinggi.
  3. Tanaman yang tumbuh subur.
  4. Tanaman yang berasal dari biji.
  5. Tanaman yang sedang membentuk daun baru.

Related posts

PENGOLAHAN HASIL BOKAR

admin

Disnakbun Berpartisipasi di Banjar Expo 2018

admin

DISNAKBUN MENGIKUTI KEGIATAN PENGARAHAN PEMBERKASAN PSR TAHUN 2021

admin