Artikel

GEJALA DAN PENGENDALIAN JAMUR UPAS PADA TANAMAN KARET

Oleh : Haizar Rachman 
Koordinator Penyuluh Perkebunan 
Dinas Peternakan dan Perkebunan 
Kabupaten Banjar

Jamur upas merupakan salah satu penyakit yang menyerang batang tanaman karet. Jamur upas disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor. Jamur upas dapat menyerang tanaman yang belum menghasilkan ataupun tanaman yang sudah menghasilkan. Terdapat empat tingkat perkembangan jamur upas.

Pada tingkat serangan awal, hanya terdapat lapisan jamur yang tipis dan berwarna putih di permukaan kulit (tingkat sarang laba-laba). Selanjutnya jamur berkembang menjadi kumpulan-kumpulan benang jamur yang disebut dengan tingat bongkol-bongkol. Pada serangan selanjutnya, terbentuk lapisan kerak berwarna merah muda yang disebut dengan tingkat corticium dan jamur sudah masuk ke dalam kayu. Pada serangan akhir jamur slot88 membentuk kerak tebal berwarna merah yang disebut dengannecator. Dari bagian yang terserang biasanya keluar lateks berwarna hitam meleleh di permukaan batang tanaman. Kulit yang sakit akhirnya membusuk dan berwarna hitam kemudian mengering dan terkelupas.. bagian kayu di bawah kulit yang sakit menjadi rusak dan menghitam. Pada serangan lanjut, tajuk percabangan akan mati dan mudah patah oleh angin.

Peularan jamur terjadi melalui penyebaran spora yang dibawa angina. Serangan jamur upas banyak dijumpai pada tanaman yang berumur 3-7 tahun dan kebun dengan tingkat kelembaban yang tinggi Pengendalian penyakit

  1. menanam klon yang tahan jamur upas pada daerah dengan curah hujan yang tinggi. Klon-klon yang tahan diantaranya adalah AVROS 2037, PR 261, GT 1, BPM 107, PB 260, TM2, TM4, TM 5, TM 6, TM 8, dan TM 9.
  2. menanam tanaman karet dengan jarak tanam tidak terlalu rapat untuk mengurangi tingkat kelembaban.
  3. pengobatan dilakukan pada tingkat serangan sarang laba-laba. Batang yang terkena serangan diolesi dengan fungisida Calixin, Fylomax atau bubur bordo dengan kuas sampai 30 cm ke atas dan ke bawah bagian yang terserang. Bubur bordo tidak dianjurkan pada tanaman yang sudah menghasilkan karena dapat mengurangi kualitas lateks yang dihasilkan.
  4. bila terkena serangan tingkat lanjut, dilakukan pengupasan pada kulit yang busuk. Kemudian dilumaskan Calixin RM secukupnya.

Situmorang Aron dan A. Budiman. 1996. Sapta Bina Usahatani Karet Rakyat. Balai Penelitian Karet Sembawa.

Artikel Terkait:

Penyakit jamur upas tanaman karet, Corticium salmonicolor biasa didapati pada daerah dengan kelembaban tinggi. Daerah-daerah di sekitar rawa dan sawah, waktu musim hujan dan daerah berkabut merupakan tempat yang disukai oleh jamur upas. Areal dengan populasi tinggi juga rawan penyakit jamur upas.

Bagian pohon karet yang terserang penyakit ini biasanya pada daerah percabangan dan juga ranting pohon. Penyakit ini dapat menyerang tanaman TBM maupun tanaman TM karet.

Serangan Corticium salmonicolor ditandai dengan benang halus putih mirip dengan benang laba-laba pada bagian terserang. Selanjutnya jamur membentuk hifa dan dilanjutkan terbentuknya kerak berwarna pingki. Selanjutnya terjadi pembusukan kulit kayu pada bagian cabang terserang penyakit jamur upas ini. Akibat pembusukan  kulit cabang akan kehitaman kering dan mengelupas. Percabangan tanaman menjadi mudah mati rapuh dan mudah patah. Tanda lainnya berupa keluarnya lateks pada daerah sekitar serangan. Selain itu, akan mulai muncul tunas pada daerah sekitar cabang terserang.

Tanaman karet yang terserang penyakit jamur upas pada tingkat lanjut dapat menjadi mati. Oleh karena itu penyakit ini juga termasuk penyakit tanaman karet yang sangat merugikan karena akan mengurangi populasi per hektar yang berarti mengurangi produktivitas areal tanam.

Upaya pengendalian penyakti jamur upas tanaman karet diantaranya:

  1. Melakukan penanaman klon yang relatif tahan seperti klon PB 260, BPM 1 dan RRIC 100.
  2. Mengurangi kelembaban suatu areal pertanaman dengan menanam karet menggunakan jarak tanam normal sehingga total populasi tidak terlalu tinggi / rapat. Populasi normal dalam satu hektar biasanya adalah 550 pokok.
  3. Cabang dan ranting yang sudah rapuh dan layu akibat jamur upas ini harus dibuang dan dimusnahkan.
  4. Melakukan pengobatan tanaman yang sudah terserang penyakit jamur upas. Pengobatan biasa dilakukan dengan cara mengoles cabang tanaman yang terserang jamur menggunakan obat seperti bubur bordo dan calixin. Kulit yang sudah busuk harus dikupas terlebih dahulu, baru kemudian dioles dengan calixin.

PENDAHULUAN
Sejak awal pelaksanaan pembangunan perkebunan, karet alam selalu berada dalam urutan prioritas karena secara ekonomis sangat penting sebagai sumber devisa negara, secara sosial sangat strategis sebagai sumber penghidupan sebagian penduduk Indonesia dan secara ekologis mendukung kelestarian lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Penetapan karet sebagai komoditas prioritas dalam pembangunan perkebunan bukan tanpa alasan. Lebih dari 80% pengusahaan karet berada di bawah pengelolaan jutaan petani perkebunan karet dengan luas pemilikan yang relatif kecil dan pengusahaan yang masih bersifat tradisional. Akibatnya produktivitas lahan masih berada di bawah potensi yang seharusnya dapat diraih.

Pengelolaan perkebunan karet sering mengalami kendala, antara lain masalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT) terutama masalah penyakit. Hampir seluruh bagian tanaman karet menjadi sasaran infeksi dari sejumlah penyakit tanaman, mulai dari jamur akar, penyakit bidang sadap, jamur upas sampai pada penyakit gugur daun. Penyakit karet telah mengakibatkan kerugian ekonomis dalam jumlah miliaran rupiah karena tidak hanya kehilangan produksi akibat kerusakan tanaman tetapi juga mahalnya biaya yang diperlukan dalam pengendaliannya. Diperkirakan kehilangan produksi setiap tahunnya akibat kerusakan oleh penyakit karet mencapai 5-15%. Sesuai dengan undang-undang tentang sistem budidaya tanaman nomor 12 tahun 1992 dan peraturan pemerintah no 6 tahun 1995 bahwa kegiatan perlindungan tanaman merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan mengimplementasikan pengendalian hama terpadu (PHT) yang aman terhadap manusia dan lingkungan.

Dalam mengimplementasikan PHT ada 4 prinsip yang harus dilakukan mulai dari budidaya tanaman sehat, konservasi dan pemanfaatan musuh alami, pengamatan berkala dan berkesinambungan serta pemilik lahan/petani secara individu dan kelompoknya telah menjadi ahli PHT atau mandiri dalam pengambilan keputusan di dalam pengelolaan kebunnya. Peran perlindungan perkebunan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah yang semakin besar dan kompleks ini. Tugas dan masalah tersebut akan dapat diatasi dengan baik apabila tersedia petugas yang terampil dan berwawasan luas serta bahan informasi
sebagai pedoman bagi petugas dalam bimbingan dan pengamatan yang akurat agar dapat dilakukan pengendalian yang tepat, untuk mengatasi masalah yang timbul di lapangan.

  1. TEHNIK PENGENALAN OPT TANAMAN KARET
    Penyakit Jamur Akar Putih
    Gejala Serangan
  • Mati mendadak seperti tersiram air panas pada musim hujan
  • Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya belum cukup waktunya berbuah dan bertajuk tipis
  • Daun berwarna hijau gelap kusam dan keriput, permukaan daun menelungkup
  • Apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benangbenang
    berwarna putih kekuningan menempel dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas
  • Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat Penyebab: Jamur Rigidoporus lignosus atau R. micropus

Penyakit Bidang Sadap Kanker Garis
Gejala Serangan

  • Adanya selaput tipis berwarna putih kelabu dan tidak begitu jelas menutupi alur sadap, apabila dikerok diatas irisan sadap akan tampak garis-garis tegak, berwarna coklat atau hitam
  • Garis-garis ini berkembang dan berpadu satu sama lain membentuk jalur hitam yang terlihat seperti retak-retak membujur pada kulit pulihan
  • Terdapat benjolan-benjolan atau cekungan-cekungan pada bekas bidang sadap lama sehingga sangat mempersulit penyadapan berikutnya
  • Gejala lanjut lateks yang keluar berwarna coklat dan berbau busuk

Penyebab: Phytophthora palmivora

Penyakit Bidang Sadap Mouldy Rot
Gejala serangan

  • Adanya lapisan beledru berwarna putih kelabu sejajar dengan alur sadap. Apabila lapusan dikerok, tampak bintik-bintik berwarna coklat kehitaman
  • Serangan bisa meluas sampai ke kambium dan bagian kayu
  • Pada serangan berat bagian yang sakit membusuk berwarna hitam kecoklatan sehingga sangat mengganggu pemulihan kulit
  • Bekas serangan membentuk cekungan berwarna hitam seperti melilit sejajar alur sadap. Bekas bidang sadap bergelombang sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya atau tidak bisa lagi disadap.

Penyakit Bidang Sadap Kering Alur Sadap
Gejala serangan

  • Tanaman tampak sehat dan pertumbuahan tajuk lebih baik dibandingkan tanaman normal
  • Tidak keluar lateks di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak mengeluarkan lateks
  • Lateks menjadi encer dan kadar karet kering (K3) berkurang
  • Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya
  • Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi coklat dan kadang-kadang terbentuk gum (blendok)
  • Pada gejala lanjut seluruh panel/kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah hingga mengelupas
    Penyebab: ketidakseimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan

Penyakit Batang : Nekrosis Kulit
Gejala serangan

  • Timbul bercak coklat kehitaman seperti memar pada permukaan kulit dan dapat timbul mulai dari kaki gajah sampai di percabangan
  • Bercak membesar, bergabung satu sama lain, basah dan akhirnya seluruh kulit batang dan cabang membusuk
  • Penyakit berkembang pada lapisan kulit sebelah dalam dan merusak lapisan kambium bahkan sampai ke lapisan kayu
  • Serangan lanjut kulit pecah dan terjadi pendarahan karena pembuluh lateks pecah
    Penyebab: Jamur Fusarium solani, berasosiasi dengan Botrydiplodia sp

Penyakit Batang : Jamur Upas
Gejala serangan

  • Stadium Laba-Laba: Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba
  • Stadium Bongkol: Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring laba-laba
  • Stadium Kortisium: Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benang-benang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu
  • Stadium Nekator: Jamur membentuk lapisan tebal hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bidang yang terserang. Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah
    Penyebab: Jamur Cortisium salmonicolor

Penyakit Daun: Embun Tepung Oidium
Gejala serangan

  • adanya bercak yang tembus cahaya/translucens dan di bawah permukaan daun
    terdapat bunder berwarna putih
    Penyebab: jamur Oidium sp

Penyakit Daun: Gugur Daun Colletotrichum
Gejala serangan

  • adanya bercak coklat kehitaman, tepi daun menggulung. Pada daun umur lebih
    dari 10 hari terdapat bercak coklat dengan halo warna kuning selanjutnya bercak
    tersebut berlubang
    Penyebab: jamur Colletotrichum sp

Penyakit Daun: Gugur Daun Corynespora
Gejala serangan

  • adanya guratan menyerupai tulang ikan sejajar pada urat daun
    Penyebab: jamur Corynespora sp

Hama rayap
Gejala Serangan

  • Adanya gerekan pada batang dari ujung sampai ke akar dan memakan akar
  • Biasanya pada kebun yang terserang JAP akan diiringi dengan serangan rayap
    sehingga mempercepat matinya tanaman
    Penyebab
    – Microtermes inopiratus
    – Coptotermes convignathus

Hama Babi Hutan
Gejala Serangan

  • Tanaman muda tiba-tiba tumbang
  • Perakaran rusak, daun menjadi layu dan kering
    Penyebab
    Sub barbatus, Sus scrofa vittatus

Hama: Uret
Gejala Serangan
Tanaman yang terserang berwarna kuning, layu dan akhirnya mati
Penyebab
Uret tanah Helotrichia serrata, H. sufoflava, H. fessa, Anomala varians, Leucophalis sp
dan Exopholis sp

GULMA
Gulma yang sering dijumpai di kebun karet adalah alang-alang (Imperata cylindrica), Ki
Rinyuh (Chromolaena odorata), dan Sembung Rambat (Mikania micrantha)
Gulma dapat menyebabkan:
– Penurunan hasil
– Penurunan kualitas hasil
– Mempersulit pelaksanaan kegiatan pemeliharaan/panen
– Menjadi inang bagi OPT
– Tertundanya masa panen (sadap)

III. PENGAMATAN OPT TANAMAN KARET
Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 887/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT dalam sistem PHT adalah kegiatan yang meliputi pemantauan dan pengamatan, pengambilan keputusan dan tindakan pengendalian.
Pemantauan adalah kegiatan mengamati dan mengawasi keadaan populasi atau tingkat serangan OPT dan faktor yang mempengaruhi secara berkala/teratur pada tempat/wilayah tertentu. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas atau petani yang terpilih sebagai sampel (unit contoh) pada kantong-kantong serangan OPT di sentra produksi komoditi utama.
Tujuannya adalah untuk mengetahui keberadaan OPT sasaran sehingga dapat ditetapkan
(diramalkan) kerapatan populasi sebaran dan dinamikanya/gejala OPT sasaran pada
kesehatan yang paling dini, sebagai dasar pengambilan keputusan (Early Warning
System). Data pemantauan dapat juga digunakan sebagai alat evaluasi keberhasilan
pengendalian yang telah dilakukan.
Pengamatan adalah kegiatan penghitungan dan pengumpulan informasi tentang keadaan populasi atau tingkat serangan OPT dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pada waktu dan tempat tertentu. Pengamatan dilakukan oleh petani di areal kebunnya untuk memperoleh data sebagai bahan pertimbangan perlu tidaknya tindakan pengendalian yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip PHT pada kesempatan paling dini.
Pengamatan dilakukan secara rutin setiap minggu atau bulan sesuai dengan fase rentan
tanaman/saat mulai munculnya gejala serangan.
Obyek Pengamatan
Obyek-obyek pengamatan yang harus diamati pada tanaman karet meliputi gejala serangan, penyebab, umur tanaman, persentase tanaman terserang, intensitas serangan, populasi OPT per unit contoh, jumlah populasi serangga berguna per unit contoh, organisme lain yang ditemukan, data pendukung (suhu, kelembaban, curah hujan, hari hujan, dan sebagainya).

Pengambilan Contoh
Untuk setiap lokasi diambil 10 pohon contoh secara diagonal dan dianggap mewakili kondisi kebun tersebut. Pohon contoh ada yang tetap dan tidak tetap (selalu berpindah). Pohon contoh tetap biasanya digunakan untuk mengamati perkembangan penyakit dan diamati secara rutin setiap kali pengamatan agar diperoleh data yang dikehendaki. Sedangkan pohon contoh tidak tetap digunakan untuk mengetahui ada tidaknya OPT yang menyerang tanaman (status OPT). Untuk petani dengan luas kepemilikan kebun yang terbatas sebaiknya mengamati seluruh tanamannya dengan melakukan sensus tanaman. Setiap pengamataan dilakukan pencatatan dan analisis hasil pengamatan untuk mengetahui intensitas serangan.
Intensitas Serangan
Intensitas serangan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kerusakan tanaman akibat
serangan OPT.
Penentuan intensitas serangan OPT didasarkan pada:
– Kepadatan populasi
– Derajat kerusakan tanaman yang ditentukan dengan skoring (berat ringannya
kerusakan)
Secara umum tingkat serangan digolongkan menjadi:
Berat : Nyata diatas ambang rasa/kendali
Ringan : Nyata di bawah ambang ras/kendali
Intensitas serangan = (jumlah tanaman terserang/jumlah tanaman yang diamati) x 100 %

TEHNIK PENGAMATAN
1. PENYAKIT JAP

Bagian tanaman yang diamati
Perakaran, daun/tajuk terutama pada tanaman yang dekat dengan tunggul karet atau kebun bertunggul karet
Interval pengamatan
Setiap 3 bulan dimulai sejak tanaman 1-5 tahun terutama pada areal rawan penyakit
Intensitas Serangan
Ringan: benang jamur warna putih baru menempel di permukaan akar, atau kulit akar mulai membusuk karena serangan jamur
Berat: kulit dan kayu akar sudah membusuk karena serangan jamur

2. PENYAKIT BIDANG SADAP : KANKER GARIS
Bagian tanaman yang diamati
Bidang sadap terutama tanaman yang disadap terlalu dekat dengan permukaan tanah dan kebun yang kelembabannya tinggi
Interval pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap hari sadap selama musim hujan, terutama kebun-kebun yang sering terkena serangan kanker garis
Intensitas Serangan
Ringan: selaput tipis berwarna putih dan tidak begitu jelas menutupi alur sadap
Berat : lateks yang keluar berwarna coklat dan berbau busuk

3. PENYAKIT BIDANG SADAP : MOULDY ROT
Bagian tanaman yang diamati
Bidang sadap terutama tanaman yang disadap terlalu sering dan dalam serta kebun yang mempunyai kelembaban tinggi
Interval pengamatan
1-2 minggu selama musim hujan
Intensitas Serangan
Ringan : lapisan beledru berwarna putih kelabu sejajar dengan alur sadap
Berat: bagian yang sakit membusuk dan berwarna kehitaman

4. PENYAKIT BIDANG SADAP : KERING ALUR SADAP
Bagian tanaman yang diamati
Bidang sadap terutama tanaman yang disadap terlalu sering dan disertai penggunaan bahan perangsang lateks (ethrel)
Interval pengamatan
Setiap hari sadap terutama pada masa gugur daun
Intensitas Serangan
Ringan : Sebagian alur sadap kering
Berat : semua batang kering dan benjol-benjol

5. PENYAKIT BATANG : NEKROSIS KULIT
Bagian tanaman yang diamati
Kulit batang dan cabang
Interval pengamatan
Setiap 3 bulan sekali pada waktu peralihan musim kemarau ke musim hujan
Intensitas Serangan
Ringan : bercak coklat seperti memar pada permukaan kulit
Berat : kulit pecah dan terjadi pendarahan karena pembuluh lateks pecah

6. PENYAKIT BATANG : JAMUR UPAS
Bagian tanaman yang diamati
Batang, cabang dan ranting pada daerah yang bercurah hujan tinggi
Interval pengamatan
1-2 minggu sekali, dimulai pada awal sampai akhir musim hujan terutama daerah yang sering diserang jamur upas dan berkelembaban tinggi
Intensitas Serangan
Ringan : bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera
Berat : Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah

7. PENYAKIT DAUN
Bagian tanaman yang diamati
Daun pada tunas baru smapai daun menjadi hijau (umur 1-15 hari)
Interval pengamatan
Setiap 3 hari sekali mulai pada saat tanaman membentuk tunas baru sampai daun menjadi
hijau. Pengamatan dilakukan pada 10 pohon sampel secara diagonal pada setiap lokasi
pengamatan
Intensitas Serangan
Dinyatakan dalam kerapatan tajuk, makin tipis kerapatan tajuk makin berat intensitas
serangannya, yaitu
– kerapatan tajuk 25 – <> 50- 75 % = serangan ringan

8. HAMA : RAYAP
Bagian tanaman yang diamati
Akar sampai ujung daun, pengamatan dilakukan bersamaan dengan pengamatan JAP

9. HAMA : BABI HUTAN
Bagian tanaman yang diamati
Akar, kulit batang, batang dan daun tanaman muda
Pengamatan:
– Dilakukan pada areal pertanaman yang berdekatan dengan hutan atau padang alang-alang
– Pengamatan terutama dilakukan menjelang subuh atau menjelang maghrib
– Apabila ada tumpukan sisa tanaman, ranting atau tumbuhan perlu dicurigai kemungkinan merupakan sarang babi betina yang akan melahirkan.
Interval Pengamatan
Dilakukan 4 bulan sekali

10. HAMA : URET
Bagian tanaman yang diamati
Akar dan bahan organik di sekitar tanaman biasanya menyerang tanaman muda dan di
pembibitan

  1. PENGENDALIAN OPT TANAMAN KARET
    Prioritas pengendalian OPT karet diutamakan pada tind akan pencegahan yang dimulai daripemilihan klon unggul dan tahan terhadap OPT sasaran, menjaga kesehatan tanaman dengan mengatur kelembaban kebun, sanitasi, pemupukan dan penyadapan yang bijaksana. Pengendalian lebih diutamakan secara biologi seperti penggunaan jamur Trichoderma sp dan penanaman tanaman antagonis di sekitar tanaman karet, misalnya, lidah mertua, kunyit, lengkuas, sambiloto, kencur, lempuyang untuk pengendalian penyakit JAP.

Pada pembukaan lahan baru, sebaiknya kebun bersih dari tunggul-tunggul tanaman yang merupakan sumber infeksi OPT tanaman karet. Untuk pencegahan penyakit yang menyerang akar sebaiknya digunakan belerang 100 gram/pohon yang dicampur dengan tanah pengisi lubang tanam bersamaan pada waktu penanaman bibit. Belerang berfungsi untuk meningkatkan kemasaman tanah. Kondisi tanah yang asam dapat menghambat perkembangan jamur antagonis terhadap jamur akar tersebut.

TEHNIK PENGENDALIAN

  1. Penyakit Jamur Akar Putih
    Deteksi Dini Penyakit
    – Penggunaan mulsa/rumput kering pada leher akar, 2-3 minggu kemudian mulsa diangkat, bila terserang JAP akan nampak benang warna putih menempel pada leher akar
    – Dilakukan pada awal dan akhir musim hujan Pengendalian
    – Pada serangan ringan, perakaran dibuka kemudian bagian akar yang busuk dipotong dan dibakar
    – Permukaan akar yang ditumbuhi jamur dikerok, bekas kerokan dan potongan diberi ter dan izal kemudian seluruh permukaan akar dioles dengan fungisida
    – Setelah luka mengering, seluruh perakaran ditutup kembali
    – 6 bulan kemudian diamati dengan membuka perakaran, apabila masih terdapat benang jamur maka dikerok dan dioles dengan fungisida kembali
    – Tanaman yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus segera dibongkar, bagian pangkal batang dan akarnya dikubur di luar areal pertanaman, menggunakan wadah agar tanah yang terikut tidak tercecer di dalam kebun
    – Bekas lubang dan 4 tanaman sekitarnya ditaburi dengan 200 gram campuran richoderma sp dengan pupuk kandang 200 gram per lubang atau tanaman
    – Pencegahan dengan menanam tanaman antagonis seperti lidah mertua, kunyit, lengkuas dan lain-lain.
  2. Penyakit Bidang Sadap: Kanker Garis
    Pengendalian
    – Menanam klon yang tahan yaitu PR 300 dan PR 303
    – Jarak tanam tidak terlalu rapat, tanaman penutup tanah yang terlalu lebat
    dipangkas
    – Pemupukan sesuai dengan dosis anjuran
    – Hindari penyadapan terlalu dekat dengan tanah
    – Pisau sadap diberi desifektan sebelum digunakan
    – Tanaman yang sudah terserang dioles fungisida dengan kuas di sepanjang jalur 5- 10 cm diatas dan di bawah alur sadap
    – Bagian yang membusuk dibersihkan dulu dengan dikerok sampai pada bagian yang masih sehat, baru dioles dengan fungisida
    – Pengolesan dilakukan segera setelah penyadapan sebelum lateks membeku
  3. Penyakit Bidang Sadap: Mouldy Rot
    Pengendalian
    – Tidak menanam klon yang rentan terutama di tempat yang beriklim basah atau rawan penyakit seperti GT 1
    – Pisau sadap diberi desinfektan sebelum digunakan
    – Menurunkan intensitas penyadapan dari S2/d2 menjadi S2/d3 atau S2/d4 atau menghentikan penyadapan pada serangan berat
    – Hindari torehan yang terlalu dalam pada saat penyadapan agar kulit cepat pulih
    – Tanaman yang sudah terserang dioles fungisida 5 cm diatas irisan sadap sehari setelah penyadapan dan getak tarik belum dilepas
    – Interval pengolesan 1-2 minggu sekali sampai tanaman kembali sehat
  4. Penyakit Bidang Sadap: Kering Alur Sadap
    Deteksi Penyakit
    Dilakukan sadap tusuk di bawah bidang sadap sampai ke bawah
    Pengambilan Keputusan
    – segera dilakukan pengendalian apabila sebagian alur sadap mengalami kekeringan
    – perlu waspada apabila lateks mulai encer
    Pengendalian
    – Menurunkan intensitas penyadapan pada pohon/kebun yang telah mulai menunjukkan kekeringan alur sadap
    – Menghindari atau menurunkan intensitas penyadapan pada musim gugur daun
    – Bidang sadap yang mati dan kulit kering bisa dipulihkan kembali dengan pemberian formulasi oleokimia (Antico F-96, No BB)
    – Pemberian oleokimia dengan cara mengerok kulit bidang sadap yang sakit kemudian dioles segera setelah pengerokan selesai
    – Satu tahun kemudian kulit yang baru bisa disadap kembali
    – Penambahan 160 gram pupuk KCl/pohon/tahun dari dosis anjuran
  5. Penyakit Batang : Nekrosis Kulit
    Pengendalian
    – Tidak menanam klon yang rentan seperti AVROS 2037, GT 1, PB 260, dan PB 235 pada daerah rawan penyakit ini
    – Pada prinsipnya sama dengan pengendalian penyakit KAS tetapi ditambah dengan fungisida yang telah direkomendasikan
    – Sebelum dioles, kerak pada bidang sadap dikerok dulu. Pengolesan 30 cm sampai keadaan atas batang infeksi dan 20 cm sampai ke bawah batas infeksi
    – Pada serangan ringan pengolesan cukup sekali saja, tetapi pada serangan berat bisa diulang pada bulan berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan sampai
    tanaman sehat
    – Batang/cabang tanaman sehat di sekitar tanaman terserang disemprot atau dioles dengan fungisida seminggu sekali untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas
    – Batang atau cabang tanaman yang mati dikumpulkan dan dibakar untuk menghilangkan sumber infeksi jamur
  6. Penyakit Batang : Jamur Upas
    Pengambilan Keputusan
    Perlu waspada dan segera dikendalikan apabila pada daerah rawan serangan penya jamur
    upas terdapat cabang/ranting tanaman yang patah
    Pengendalian
    – Menanam klon yang tahan seperti BPM 107, PB 260, PB 330, AVROS 2037, PBM 109, IRR 104, PB 217, PB 340, PBM 1, PR 261, dan RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.
    – Jarak tanam diatur tidak terlalu rapat
    – Cabang/ranting yang telah mati dipotong dan dimusnahkan
    – Cabang yang masih menunjukkan gejala awal (sarang laba-laba) segera dioles
    dengan fungisida Bubur Bordo, Calixin 750 EC atau Antico F-96 hingga 30 cm ke atas dan ke bawah
    – Bubur Bordo dan fungisida yang mengandung unsur tembaga tidak dianjurkan pada tanaman yang telah disadap, karena dapat merusak mutu lateks
    – Pada kulit yang mulai membusuk harus dikupas sampai bagian kulit sehat kemudian dioles fungisida hingga 30 cm keatas dan ke bawah dari bagian yang
    sakit
  7. Penyakit Daun
    Pengendalian
    – Menanam klon anjuran yaitu RRIC 100, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, PB 340, PB 330, IRR 104, IRR 5, IRR 32, IRR 118, dan IRR 39.
    – Pada serangan ringan diberikan pupuk nitrogen 2 kali dosis anjuran pada saat daun mulai terbentuk. Pemberian pupuk dengan cara dibenamkan dalam tanah agar lebih mudah diserap oleh akar
    – Pada serangan berat dikendalikan dengan cara disemprot fungisida kontak yang direkomendasikan, pada saat daun mulai terbentuk smapai dengan daun berwarna hijau dengan interval 1 minggu (umur daun 21 hari)
  8. Hama : Rayap
    Pencegahan
    – Sanitasi areal perkebunan
    – Membersihkan tunggul-tunggul tanaman sisa pembukaan lahan baru
    – Pada saat peremajaan tanaman, lubang tanam perlu diberi perlakuan anti rayap dengan termitisida cair
    Pengendalian
    – Membongkar sarang
    – Penggunaan agen hayati seperti semut, nematoda Steinernema sp dan Heterorhabditi indica, jamur B. Bassiana dan Metarrhizium spp)
    – Penyiraman termitisida di sekitar perakaran (1,5 meter dari batang pohon dibuat parit kemudian disiram termitisida 2,5 – 4 liter per meter
    – Pembasmian sarang dengan fumigan atau termitisida cair yang disuntik ke pusat sarang
  9. Hama : Babi Hutan
    Pengendalian
    – Sanitasi lingkungan, memasang jaring, perangkap
    – Memberi pagar di sekitar areal kebun
    – Membuat parit di sekitar areal kebun
    – Berburu bersama dengan kelompok pemburu babi misalnya perbakin
    – Pemberian umpan beracun, hati-hati jangan sampai racun tersentuh tangan
  10. Hama : Uret
    Pengendalian
    Mengumpulkan uret di sekitar tanaman terserang dan dimatikan
  11. Gulma Penting
    Pengendalian
    – Penyiangan 0,5-1 meter sekeliling tanaman (piringan) harus bersih dari gulma
    – Penanaman tanaman penutup dari jenis kacang-kacangan (Centrosema pebescens, Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, Calopogonium caereleum).
    Penanaman pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau 1,5-2 meter dari barisan tanaman
    – Penanaman tanaman sela misalnya tanaman padi, jagung, kacang tanah, kedelai dan dari jenis tanaman obat misalnya kunyit, jahe, lengkuas dan sebagainya

oleh
Sri Dewi Judawi
Holomoan Lumbantobing
Retno Budi Setyaningsih
Direktorat Jenderal Perkebunan
Departemen Pertanian
Jakarta, 2006

Jamur Upas pada tanaman karet

Penyebab penyakit adalah jamur Corticium salmonicolor.

Gejala Serangan

1.    Stadium sarang laba-laba
Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba.

2.    Stadium bongkol
Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring labalaba.

3.    Stadium kortisium
Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benangbenang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu.

4.    Stadium nekator
Jamur membentuk lapisan tebal berwarna hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bagian terserang. Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah.

Pengendalian

1. Menanam klon yang tahan seperti BPM 107, PB 260, PB 330, AVROS 2037, PBM 109, IRR 104, PB 217, PB 340, PBM 1, PR 261 dan RRIC 100 IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.

2. Jarak tanam diatur tidak terlalu rapat.

3. Cabang/ranting yang telah mati dipotong dan dimusnahkan.

4. Cabang yang masih menunjukkan gejala awal (sarang laba-laba) segera dioles dengan fungisida Bubur Bordo atau fungsida berbahan aktif Tridermorf hingga 30 cm ke atas dan ke bawah bagian yang terserang.

5. Bubur bordo dan fungisida yang mengandung unsure tembaga tidak dianjurkan pada tanaman yang telah disadap, karena dapat merusak mutu lateks.

6. Pada kulit yang mulai membusuk, harus dikupas sampai bagian kulit sehat kemudian dioles fungisida hingga 30 cm ke atas dan ke bawah dari bagian yang sakit.

  1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Karet (Hevea brasiliensis Muell.-Arg) berasal dari Brazilia, Amerika Selatan, mulai dibudidayakan di Sumatera Utara pada tahun 1903 dan di Jawa pada tahun 1906. Tanaman ini berasal dari sedikit semai yang dikirimkan dari Inggris ke Bogor pada tahun 1876, sedangkan semai-semai tersebut berasal dari biji karet yang dikumpulkan oleh H. A. Wickman, kewarganegaraan Inggris, dari wilayah antara Sungai Tapajoz dan Sungai Medeira di tengah Lembah Amazon (Semangun, 2000).

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Universitas Free, Belanda, pada tahun 2020 mendatang kebutuhan karet dunia mencapai lebih dari 13,472 juta ton karet alam. Padahal kemampuan negara-negara produsen karet alam untuk memenuhinya hanya sekitar 7.8 jut ton. Bagi Indonesia, meningkatnya kebutuhan karet alam dunia memberikan harapan yang cerah karena peluang untuk mengisi pasar internasional semakin terbuka (Semangun, 2000).

Di Indonesia karet alam merupakan komoditas strategis terutama ditinjau dari total area (3,1 juta ha), sumber devisa (lebih dari 1 milyar US$), jumlah penduduk yang mata pencariannya bergantung pada perkaretan (12 juta jiwa) dan perannya sebagai pelestari lingkungan (Setyamidjaja, 1993). Selain sebagai sumber devisa, karet juga digunakan untuk bahan baku di dalam negeri terutama untuk industri ban (Setyamidjaja, 1993).

Sebagai negara produsen kedua terbesar di dunia pada saat ini, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi produsen utama dalam dekade-dekade mendatang. Potensi ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai sumber daya yang sangat memadai untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, baik melalui pengembangan areal baru maupun melalui peremajaan areal tanaman menggunakan klon-klon unggul. Namun, harapan ini akan berjalan dengan baik jika langkah-langkah strategis penanganan operasional dapat dilaksanakan dengan baik. Pada saat yang sama, negara-negara pesaing indonesia dengan sistem kelembagaan peremajaan tanaman karetnya yang lebih mapan, juga sedang menata diri untuk merebut pasar karet yang sangat prospektif dalam dua dekade mendatang (Depertemen Pertanian, 2007).

Dengan melihat adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet dimasa mendatang, maka upaya untuk meningkatkan produksi dan pendapatan melalui budidaya tanaman karet yang baik bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Untuk itu pengetahuan yang memadai tentang penaganan karet secara baik sangatlah penting dilakukan guna menunjang perkembangan perkebunan Karet di Indonesia.

Penyakit sering menimbulkan kerugian yang cukup berarti pada tanaman karet. Setiap tahun kerugian yang ditimbulkannya bisa mencapai jutaan rupiah dari setiap hektar tanaman karet. Biasanya kerugian tersebut tidak hanya disebabkan oleh rusaknya tanaman karet saja, tetapi juga oleh biaya pengendalian penyakit yang sangat mahal (Anonimus, 2008).

Lebih dari 25 jenis penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan diperkebunan karet. Namun penyakit terpenting pada tanaman karet adalah jamur akar putih (JAP), jamur upas, penyakit daun dan kekeringan alur sadap (KAS). Jamur upas adalah penyakit yang dapat menyebabkan patahnya dahan dan ranting keret, Serangan penyakit ini terdapat pada segala tingkat umur tanaman keret, dan sangat berbahaya terutama pada tanaman muda yang belum disadap. Serangan pada tingkat umur demikian dapat berakibat parah, karena daya tahan pohon terhadap serangan penyakit ini masih belum kuat (Direktorat Perlindungan Tanaman, 2003).

Jamur biasanya terjangkit pada kebun-kebun karet yang memiliki tajuk rindang, terutama pada musim hujan yang kondisi cuacanya sangat lembab dan cahaya matahari kurang dapat menembus tajuk-tajuk pohon yang rindang. Gejala serangan jamur upas biasanya dimulai dengan timbulnya bercak-bercak putih yang besar pada bagian kulit batang/cabang, yang terus menerus berkembang jika keadaan lingkungkungan mendukung, kelembapan yang tinggi adalah salah satu faktor pendukung perkembangan jamur upas (Setyamidjaja, 1993).

Untuk mengatasi penyakit karet tersebut, terutama penyakit jamur upas, cara-cara pengendalian harus dilakukan dengan konsep yang sesuai, cepat dan tepat, hal ini dilakukan agar dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan penyakit tersebut. Sebaiknya usaha pencegahan lebih diutamakan dari pengobatan sehingga diperlukan pengamatan sedini mungkin secara berkala dan terus menerus (Anonimus, 2008).

Diagnosa penyakit yang cepat dan tepat akan sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit. Sampai saat ini, cara-cara pengendalian penyakit karet yang dianjurkan dapat berupa kombinasi dari aspek kultur teknis, manipulasi lingkungan, dan atau penggunaan pestisida, atau masing masing aspek tersebut. Khusus dalam penggunaan pestisida, perlu diperhatikan akan dampak negatifnya terhadap manusia, lingkungan, tanaman, dan organisme pengganggu (OPT) itu sendiri (Sujatno, 2007).

1.2. Tujuan

Tujuan dari Praktek lapang ini adalah untuk mengetahui gejala serangan jamur upas dan teknik pengendaliannya pada tanaman karet di Balai Penelitian Sungei Putih, Galang, Deli Serdang Sumatera Utara.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi Tanaman Karet

Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell.-Arg) dalam sistem klasifikasi digolongkan dalam:

Divisio      : Spermatophyta

Kelas         : Dicotyledonae

Ordo          : Euphorbiales

Famili        : Euphorbiaceae

Genus       : Hevea

Spesies     : Brasilensis (Muell.- Arg).

2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Karet

  1. Iklim

            Tanaman karet adalah tanaman daerah tropik.  Daerah penanaman di Indonesia  adalah  pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan, terletak pada zona antara 150LS dan 150LU. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman   karet tidak kurang dari  2500 mm/tahun, optimal antara 2500-4000 mm/tahun,  yang terbagi dalam  100-150 hari hujan. Ketinggian tempat  untuk pertumbuhan tanaman karet adalah  0-600 m dpl,  dan optimal  pada ketinggian 200 m dpl. Setiap kenaikan  100 m maka  matang sadap lebih  lambat 6 bulan. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman karet  adalah 20-35 0C  dengan kelembaban  75-90% dan kecepatan angin tidak terlalu kencang karena  dapat mengakibatkan batang patah  atau pohon tumbang (Setyamidjaja, 1993).

  1. Tanah

Tanaman karet  dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupun vulkanis tua, alluvial dan bahkan tanah gambut. Tanah tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi, dan drainasenya, akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik, karena kandungan haranya relatif rendah. Tanah–tanah alluvial umumnya cukup subur, tetapi sifat fisiknya terutama drainase akan menolong perbaiki keadaan tanah ini .

Reaksi tanah yang umum ditanami karet mempunyai pH antara 3.0 – 8.0. pH tanah di bawah 3.0 atau di atas 8.0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah sbb :

solum cukup dalam, sampai 100 cm atau lebih, tidak terdapat batu-batuan,

– aerasi dan drainase baik,

– remah, poros dan dapat menahan air

– tekstur terdiri atas 35% liat dan 30% pasir,

– tidak bergambut, dan jika ada tidak lebih tebal dari 20 cm,

– kandungan unsur hara N, P dan K cukup dan tidak kekurangan unsur mikro,

– kemiringan tidak lebih dari 16 %,

– permukaan air tanah tidak kurang dari 10 cm, (Setyamidjaja 1993).

  1. Penyebab Penyakit

Penyakit jamur upas karet disebabkan oleh jamur Coticium salmonicolor B. et Br. Oleh Venkatarayan (1950) dinamakan Botryobasidium salmonicolor (B. Et br) Venk. Julich (1975) menamakan Pellicalaria salmanicolor (B. et Br) Dast. Tjokrosoedormo (1983) menamakanUpasia salmanicolor (B. et Br) Tjokr. Meski sampai sekarang masih dikenal dengan namaCorticium salmonicolor (Semangun, 2000).

  1. Gejala Penyakit

Biasanya penyakit ditemukan pada percabangan atau pada bagian bawah percabangan dan atau ranting.  Serangan awal dari Corticium salmonicolor ditandai dengan adanya benang-benang halus yang mirip dengan benang laba-laba pada bagian cabang yang diserang, pada tingkat permulaan serangan penyakit ini umumnya belum nampak tanda-tanda penyakit pada tajuk, karena pertumbuhan hifa-hifa cendawan masih terbatas pada permukaan kulit saja.  Pada tahap ini pengamat yang belum terlatih akan mengalami kesulitan untuk menetapkan gejala penyakit tersebut.  Tahap selanjutnya patogen membentuk kumpulan-kumpulan hifa yang dilanjutkan dengan pembentukan kerak yang berwarna merah jambu (warna pink=salmonicolor). Pada permukaan lapisan cendawan terbentuk sejumlah besar spora cendawan yang mudah menyebar oleh angin, dan percikan air. Kemudian akan terbentuk jenis spora sempurna, stadium corticium juga bisa menghasilkan spora tidak sempurna (inferfect stage), yaitu tingkatan Necator decretus, berupa bentuk –bentuk kecil berwarna merah jingga yang masing-masing mengandung sejumlah besar spora.

Pada tingkat kritis ini benang-benang cendawan telah berhasil menembus kulit, dimana kemudian terjadi luka-luka yang dapat mengakibatkan keluarnya tetesan-tetesan lateks di sekitarnya. Di sebelah bawah tempat serangan pada kulit yang masih sehat kemudian tumbuh tunas-tunas baru yang berasal dari mata tidur.

Jika serangan jamur ini tidak segera dikendalikan, terutama sampai melingkari kulit dahan, akhirnya akan menyebabkan matinya tajuk dahan. Tanda-tanda yang khas adalah: layunya daun yang kemudian mengering dan tetap menggantung pada pohon selama beberapa waktu. Lapisan kerak jamur upas lambat laun akan berubah warna menjadi lebih pucat, terutama pada cuaca kering. Kulit dahan di bawah kerak jamur upas itu kemudian membusuk kering berwarna kehitaman dan timbul pecah-pecah yang dalam dan sampai ke bagian kayu, dapat mengakibatkan mengelupasnya kulit yang telah kering, jika telah seperti ini, maka dahan atau ranting akan mudah patah apabila angin agak kencang (Setyamidjaja, 1993).

  1. Daur Penyakit

Jamur upas mengadakan infeksi pada dahan dan ranting, patogen bersumber dari tanaman disekitar yang telah terinfeksi dan sakit duluan, patogen dapat menyebar melalui angin, percikan air hujan dan lain-lain. Setelah mengadakan infeksi, dalam waktu beberapa hari jamur pada dahan atau ranting akan menghasilkan banyak sporangium, sporangium ini akan tersebar lagi ke tanaman-tanaman yang lainnya.

Corticium salmanicolor dapat bertahan pada ranting dan dahan tanaman yang telah terserang dalam waktu yang agak lama, apabila kelembaban tinggi, maka jamur akan menyebar dan berkembang dengan pesat, suhu yang sesuai untuk perkembangan spora jamur upas berkisar antara 20- 270C.

  1. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit

Penyakit jamur upas banyak dijumpai pada klon-klon yang bertajuk rindang dan pada tanaman muda berumur 4 – 12 tahun yang ditanam pada areal yang selalu lembab.  Di daerah dekat persawahan atau rawa dan sungai merupakan daerah yang selalu lembab.  Penyakit jamur upas biasanya berjangkit pada musim hujan atau pada keadaan yang sangat lembab atau berkabut.  Disamping faktor-faktor tersebut kerentanan klon karet juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Klon-klon karet yang rentan terhadap jamur upas antara lain GT 1, RRIM 600, RRIM 623, PR 255, PR 300, PR 226, dan PR 228 (Setyamidjaja, 1993).

III. KEADAAN UMUM BALAI PENELITIAN SUNGEI PUTIH

3.1 Letak dan Luas Wilayah

Balai Penelitian Sungei Putih terletak di Desa Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang Sumatera  Utara. Balai  ini berada sekitar 60 Km dari kota Medan. Dapat dicapai  dalam waktu 90 menit dengan kendaraan roda 2 dan  4. Balai ini berada pada ketinggian ± 80 m Dpl.

Lokasi ini berbatasan dengan :

ü  Sebelah utara berbatasan dengan  Desa Petumbukan

ü  Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Galang dan PTPN III Sungei Karang

ü  Sebelah selatan berbatasan dengan  Tanjung Purba

ü  Sebelah barat berbatasan dengan  Desa Bangun Purba dan areal  PT. Serdang Tunggal.

Balai Penelitian Sungei Putih memiliki Kebun Percobaan yang berbatasan dengan areal PT. Perkebunan Nusantara III di sebelah Utara, Selatan, dan Timur dan  areal PT. Serdang Tunggal dan areal penduduk di sebelah Barat. Kebun Percobaan memiliki peranan yang penting karena selain sebagai tempat pelaksanaan penelitian bagi peneliti Balai Penelitian Sungei Putih juga sebagai sumber dana melalui tanaman produktif yang ada di Kebun Percobaan. Luas kebun percobaan yang ada di Sungei Putih 427,04 ha yang terdiri dari tanaman karet yang telah menghasilkan 188,77 ha (44,20%), tanaman karet belum menghasilkan 178,62 ha (41,82%) yang termasuk di dalamnya plasma nutfah dan kebun persilangan, kebun kayu okulasi (KKO) 10 ha (2,34%), tanaman kelapa sawit yang telah menghasilkan 12 ha (2,8%), dan tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan 37,65 ha (8,81%). Klon-klon tanaman karet yang ditanam di Kebun Percobaan Sungai Putih antara lain: PB 260, PB 330, PB 340, IRR 118, IRR 112, IRR 104, IRR 39, RRIM 921, dan BPM 107.

Beberapa penyakit yang menyerang pertanaman karet di Kebun Percobaan adalah penyakit jamur akar putih Rigidoporus lignosus, jamur upas Corticium salmonicolor, kanker garisPhytophthora palmivora, mouldy rot Ceratocystis fimbriata, brown blast, embun tepungOidium heveae, antraknos Colletotrichum gloeosporioides, penyakit gugur daunCorynespora cassiicola, bercak daun Helminthosporium Helminthosporium heveae, layu pembibitan Fusarium sp.

Kegiatan yang ada di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih antara lain pembibitan, eksploitasi, pemeliharaan, administrasi dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 65 orang yang terdiri dari 29 pegawai dan 36 tenaga harian lepas. Selain itu masih ditambah karyawan pemborong untuk pekerjaan yang tidak tetap melalui mekanisme borongan.

Hasil tanaman karet yang dihasilkan kebun percobaan dijual dalam bentuk lateks, lump, skrep dan slab. Lateks adalah getah karet yang masih dalam bentuk cair, lum yaitu getah karet yang telah menggumpal di mangkuk penampung, sedangkan slab adalah lateks yang dibekukan. Produksi lateks pada tahun 2005 sebesar 279.575 kg atau rata-rata 23.279 kg tiap bulannya, hasil lum pada tahun 2005 sebesar 29.291 kg dengan rata-rata per bulan 2.490 kg. Penjualan slab tahun 2005 sebesar 77.790 kg atau 6.482 kg tiap bulannya. Hasil tanaman sawit yang dipanen dari kebun percobaan dijual dalam bentuk tandan buah segar dengan mekanisme tender yang dilakukan pihak kebun.

3.2. Sejarah Balai

Balai penelitian Sungei Putih sebelumnya adalah  Pusat Penelitian Sungei  Putih, menjadi Balai pada tanggal 1 Juni 2003 daan sekarang Pusat Penelitian karet berada  di Tanjung Morawa, Medan. Balai penelitian lainnya yang berada  di bawah naungan  Pusat Penelitian Karet  adalah Balai penelitian Sembawa  (Sumatera Selatan), Balai penelitian Karet Bogor (Jawa Barat) dan Balai penelitian  Getas (Jawa Tengah). Perubahan nama Balai Penelitian  karet Sungei Putih memang sering  terjadi sebelumnya. Sejak berdiri (1981) bernama Pusat Penelitian  Karet   Sungei Putih sampai  tahun  1989. Pada 3  Juli 1989 menjadi Balai, kamudian  menjadi Pusat Penelitian  sampai mei 2003  dan sekarang  menjadi Balai Penelitian Sungei Putih.

Balai Penelitian  Sungei Putih yang sebelumnya  bernama  pusat penelitian karet  didirikan  dengan  SK Menteri Pertanian RI No 790/Kpts/org/09/1981. Pada  tanggal 11 september  1981  berada di bawah  Badan Penelitian  dan Pengembangan  Pertanian Depertemen Pertanian.

3.3. Iklim, Tofografi dan Jenis Tanah

  1. Iklim

Salah satu indikator yang sangat penting adalah dimana dapat menggambarkan situasi cuaca Balai Penelitian Sungei putih, salah satunya adalah curah hujan, data ini sangat diperlukan sebagai pedoman kultur teknis dan intensitas serangan penyakit tanaman keret yang bisa ditentukan oleh kelembaban. Data curah hujan Balai penelitian Sungei Putih dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1. Data Curah Hujan Balai Penelitian Sungei Putih Tahun 2007 – 2008

No. Bulan 2007 2008
CH (mm) HH CH (mm) HH
1 Januari 94 6
2 Februari 62 3
3 Maret 26 2 198 9
4 April 175 9 193 9
5 Mei 405 12 222 7
6 Juni 109 4 85 7
7 Juli 225 7 208 6
8 Agustus 241 5 213 6
9 September 239 6 435 9
10 Oktober 180 3 218 8
11 November 151 13 154 7
12 Desember 179 4 163 5
Jumlah 2086 74 2089 7
  1. Tofografi

Tofografi suatu areal/lahan merupakan bentuk dari permukaan tanah/lahan tersebut yang sering dinyatakan dalam derajat kemiringan tanah/lahan tersebut. Tofografi pada Balai Penelitian Sungai Putih pada umumnya datar dengan luas lahan seluruhnya 458,84 Ha.

  1. Jenis tanah

Secara geologis Balai Penelitian Sungai Putih memiliki jenis tanah atau tekstur tanah mineral dengan ketinggian tempat 80 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah podsolik merah kuning dan pH tanah berkisar 5 – 7 dengan sistem drainase baik, kesuburan tanah juga baik.

3.4. Luas Lokasi Balai

Luas areal Balai penelitian  Sungei Putih adalah 479,84 Ha. Dilengkapi dengan 4 laboratorium  yaitu : laboratorium tanah, proteksi, teknologi pengolahan, dan fisiologi serta 3 rumah kaca dan 1 stasiun klimatologi. Kebun percobaan Sungei Putih dilengkapi dengan  kebun plasma nutfah karet  sebagai bahan dasar pemuliaan tanaman karet. Rincian penggunaan areal lahan  Balai penelitian Sungei Putih tahun 2006 dapat  dilihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Jenis Klon Penghasil Latek dan Luas Lahan

No Jenis klon Luas lahan (Ha) Keterangan
1 GT 1 102,00 Klon primer penghasil kayu dan latek, batang agak jagur, kulit coklat tua sampai kehitaman.
2 BPM 1 6,00 Balai/pusat penelitian perkebunan medan, penghasil latek.
3 PR 36 19,60 Keturunan klon Tjir (Tjirandji) penghasil kayu latek dan kayu.
4 BPM 24 5,9 Balai/pusat penelitian medan, penghasil latek.
5 AV 2037 70,40 Penghasil latek. Warna latek kekuning-kuningan.
6 PR 228 15,30 Klon keturunan BR 2 dan PR 107. penghasil latek.
7 PR 300 15,30 Klon keturunan PR 226 dan PR 228, penghasil latek.
8 PB 260 80,20 Klon unggul penghasil latek.
9 RRIM 606 163,00 Rubeber Research Institute of Malaysia. Klon berasal dari malaysia.

Sumber: Balai Penelitian Sungei Putih         

  1. METODE PRAKTEK LAPANG

4.1 Tempat dan Waktu Praktek Lapang

Praktek lapang ini dilakukan di Laboratorium dan Kebun Percobaan di Balai Penelitian Sungei Putih. Praktek Lapang ini berlangsung dari tanggal 27 Juli sampai dengan tanggal 10 Agustus 2009.

4.2. Bahan dan alat Praktek Lapang

Bahan dan alat yang digunakan untuk melaksanakan praktek lapang sebagai berikut:

– Tanaman karet yang belum menghasilkan (TBM)

– Bio fugisida

– Kuas

– Kamera

– Buku, alat tulis dan lain-lain.

4.3. Metode Praktek Lapang

Praktek lapang ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu persiapan pelaksanaan praktek itu sendiri, tahan pengambilan data dengan cara pengamatan langsung ke lapangan dan tahap penulisan laporan.

Adapun teknik pengambilan data menggunakan tahapan sebagai berikut:

  1. Data Primer

Merupakan data yang didapat dengan melakukan pengamatan langsung pada tanaman yang terserang di lapangan. Serta mewawancarai langsung tim peneliti dan pembimbing lapangan.

  1. Data sekunder

Data di peroleh dari pembimbing lapangan di Balai Penelitian karet Sungei Putih, di samping itu juga dilengkapi berbagai literatur dan referensi yang menunjang terlaksananya praktek lapang ini.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan dan data-data penelitian sebelumnya di balai Penelitian Sungei Putih, dapat diketahui bahwa penyakit batang dan cabang  jamur upas pada tanaman karet sangat penting, terlihat pada beberapa lokasi kebun yang serangannya  mencapai skala 4 atau skala yang harus dikendalikan, walau tanaman telah dirawat dan dilakukan monitoring gejala penyakit pada kurun waktu tertentu, tetapi penyakit tetap saja bisa menyerang. Namun, pengendalian tetaplah dilakukan, yaitu pada tanaman yang terserang maupun tanaman yang baru menunjukkan gejala awal.

Secara luas pengendalian penyakit jamur upas ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

  1. Pengendalian Secara Preventif

– Yaitu mengurangi kelembapan kebun dengan cara mengatur jarak tanam yang sesuai, memotong dahan dan cabang-cabang yang terlalu rindang.

– Memusnahkan sumber penularan, yaitu dahan atau ranting yang terinfeksi terinfeksi dipotong dan di bakar atau ditanam dalam tanah.

– Jangan menanam klon yang peka terhadap penyakit seperti: Tjir 1, PB 28/59, RRIM 501, 600, 618 dan 701.

  1. Pengendalian Secara Kimia

– Mendesinfeksi bagian yang terserang dengan carbolinium planetarium 10%, Izal 10%, Antimucin 0,5%, Fylomac 0,5% atau Santar A1 : 2 (semua berbentuk cairan), sampai batas 15 cm dari bagian yang terserang, kemudian dikerok dan dilumasi colter.

– Menyemprot bagian yang terserang dengan Fungisida bubur Borducoux 2%. Cara membuat bubur Borducoux 2% adalah sebagai berikut: 400 gr terusi (CuSO4), 200 gr kapur tohor, dan 20 liter air, semua bahan dicampur dan diaduk. Dapat juga digunakan fungisida Copper Oxychloride 1% (10gr/liter air).

Pada pengendalian dengan cara menyemprot ini gunakanlah sprayer yang dilepas dop – spiralnya yang terdapat didalam nozzle. Dengan demikian, sewaktu menyemprotkan fungisida akan diperoleh semburan yang cukup kuat sehingga dapat menjangkau  bagian dahan yang terserang.  Cara terakhir ini dapat digunakan pada pohon yang belum disadap. Untuk pohon yang telah  disadap cara ini tidak dianjurkan karena adanya resiko tercampurnya bahan tembaga  ( Cu ) yang terdapat didalam bubur Borduceux atau COC dengan lateks yang dapat menurunkan kualitas hasil karet, yaitu menjadi lengket dan kurang elastis.

5.1. Usaha Pengendalian Jamur Upas yang di Lakukan di Balai Penelitian Sungei Putih

            Ada beberapa cara pengendalian terpadu penyakit jamur upas yang disebabkan oleh Corticium salmonicolor di Balai Penelitian Tanaman Sungai Putih yaitu  dengan memakai beberapa teknik pengendalian yang sesuai untuk mengendalikan penyakit jamur upas tersebut. cara-cara pengendaliannya yaitu:

  1. Monitoring

Kegiatan pemantauan dilakukan secara berkala di areal kebun untuk  pencegahan berkembang dan menyebar penyakit  pada tanaman yang sehat. Data yang diperoleh dari hasil monitoring di evaluasi setiap minggu untuk menetapkan waktu yang tepat melakukan pengendalian.

  1. Kultur teknis

– Mengurangi tajuk tanaman yang terlalu rindang dan banyak.

– Tidak menanam klon-klon yang rentan serangan penyakit jamur upas.

– Drainase yang baik

– Membersihkan gulma

– Pemberian pupuk yang berimbang dan tepat dosis.

  1. Kimiawi/fungisida

– Mengobati bagian kulit yang sakit

Cara pengobatan :

  1. Permukaan kulit luar yang sakit dikerok hingga tampak jaringan sehat.

2.Bekas kerokan dilumas dengan larutan fungisida1. Difolatan 4 F (Langsung dilumaskan).

  1. Calixin ready mixed (Langsung dilumaskan)

b.Calixin 750 EC atau Bayleton 250 EC (diencerkan 10 cc/1 ltr air + tepung    kaolin secukupnya/bahan tersebut   langsung dilumaskan).

  1. dPengendalian Hayati

Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan mikro organisme antagonis yang telah terbukti efektif mengendalikan jamur upas pada tanaman karet. Aplikasinya dilakukan dengan mengoleskan Biofungisida tersebut ke daerah batang atau ranting tanaman yang terserang

Agen Antagonis yang digunakan sebagai Bio Fungisida adalah:

– Jamur Actinomycetes sp

– Bakteri Psedomonas sp

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  1. Penyakit jamur upas yang disebabkan oleh Corticium salmonicolordapat menyerang  dahan dan ranting tanaman karet dan merupakan salah satu penyakit penting dalam budidaya tanaman karet.
  2. Gejala penyakit jamur upas dapat diketahui dengan adanya tanda penyakit, seperti adanya hifa yang berbentuk sarang laba-laba.
  3. Persentase serangan jamur upas dibalai Balai Penelitian Sungei Putih rata-rata masih mudah yaitu sekitar 10% karena keberadaan penyakit selalu dapat dikendalikan dengan baik.
  4. Pengendalian dengan menggunakan fungisida kimia dan biofungisida merupakan tindakan pengendalian penyakit jamur upas di Balai Penelitian Sungei Putih.
  5. Fungisida yang sering dipakai dalam mengendalikan jamur upas di Balai penelitian Sungei putih adalah:
  • Defolatan 4 F (Langsung dilumaskan)
  • Calixin ready mixed (Langsung dilumaskan)
  • Calixin 750 EC atau Bayleton 250 EC (diencerkan 10 cc/1 ltr air + tepung    kaolin secukupnya/bahan tersebut   langsung dilumaskan).

6.2. Saran

  1. Monitoring yang teratur perlu dilakukan untuk mengevaluasi keberadaan jamur upas pada pertanaman karet.
  2. Tanaman yang sudah memperlihatkan gejala serangan jamur upas harus dikendalikan sedini mungkin agar kesehatan dan produktivitas tanaman tetap baik.
  3. Perawatan tanaman harus dilakukan secara intensif untuk mengurangi serangan jamur upas dilapangan.
  4. Penggunaan aplikasi biofungisida sebagai salah satu cara pengendalian jamur upas sebaiknya dapat terus ditingkatkan, sehingga pemakayan fungisida kimiawi dapat terus dikurangi.

DARTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

Depertemen Pertanian, 2007. prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet. Edisi ke 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

http://www.litbang.deptan.go.id/special/publikasi/doc_perkebunan /karet/karet-bagian-a.pdf(Diakses pada tanggal 15 November 2009).

Direktorat Perlindungan Perkebunan. 2003. Pedoman Pengamatan dan Pengendalian OPT Karet. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian. Jakarta..

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

SetyamidjajaD.1993. Karet budidaya dan Pengolahan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sujatno, dkk. 2007. Pengenalan dan Pengendalian Penyakit pada Tanaman Karet. Balai Penelitian Sungai Putih Medan.

Label: PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN KARET

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

Nama umum    : Corticium salmonicolor Berk. & Broome

Klasifikasi    : Kingdom: Fungi

Phylum   : Basidiomycota

Kelas   : Basidiomycetes

Ordo    : Stereales

Famili   : Corticiaceae

Sumber gambar : CABI

Morfologi dan daur penyakit

  • Morfologi pertumbuhan patogen pada tanaman mengalami 4 stadia, yakni stadium membenang, stadium membintil, stadium kortisium, dan stadium nekator. Stadium membenang merupakan perkembangan awal patogen yakni pada permukaan ranting atau cabang tanaman terlihat benang-benang halus.
  • Perkembangan selanjutnya pada permukaan ranting atau cabang tanaman terlihat adanya bintil-bintil putih.  Lapisan miselium yang tipis berwarna merah jambu merupakan ciri stadium kortisium.  Perkembangan selanjutnya adalah stadium nekator, yaitu terbentuk bintil merah pada kayu yang umumnya telah mati karena serangan cendawan ini.  Bintil-bintil tersebut merupakan tubuh buah cendawan.
  • Kelembaban dan kurangnya cahaya yang mengenai bagian tanaman mendorong perkembangan cendawan ini.
  • Penyakit ini menyebar di pertanaman jeruk antara lain di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Gejala serangan

  •  Mula-mula jamur membentuk benang-benang mengkilat seperti sarang laba-laba pada permukaan kulit cabang atau ranting yang berkayu (stadium sarang laba-bala).
  • Jamur berkembang terus, masuk ke dalam kulit dan menyebabkan kulit membusuk, sedang pada permukaan kulit jamur membentuk kerak berwarna merah jambu seperti warna ikan salmon (stadium Corticium). Pada tingkatan ini jamur membentuk basidiospora yang dapat dipencarkan oleh angin.
  • Jamur berkembang terus, meskipun kulit sudah mati, dan membentuk badan buah berbentuk piknidium berwarna merah bata (stadium Nekator) yang menghasilkan konidium.  Konidium dipencarkan oleh percikan air atau oleh serangga.

Tanaman inang lain

  • Karet, coklat, kopi, teh, dan cengkeh

Cara pengendalian

  • Pengendalian secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), penggunaan bibit yang sehat, pengaturan jarak tanam yang cukup untuk menghindari kelembaban yang tinggi, pemupukuan berimbang, dan pengamatan secara teratur terhadap kulit cabang atau ranting yang menunjukkan gejala adanya benang-benang mengkilat seperti sarang laba-laba, bintil-bintil putih, miselium merah jambu, dan bintil merah (nekator) pada kayu-kayu yang telah mati.
  • Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan membersihkan/sanitasi bagian tanaman yang menunjukkan gejala serangan dan sisa tanaman/kayu mati yang terinfeksi, serta memusnahkannya.
  • Pengendalian kimiawi, dengan penggunaan fungisida yang efektif sesuai rekomendasi.

Link Terkait

https://www.wikitravaux.fr/

https://www.meteowebcam.eu/

Related posts

DISNAKBUN MEMBUKA POSKO PENGINAPAN GRATIS DI HAULAN ABAH GURU SEKUMPUL YANG KE – 15

admin

TAHAPAN PENGOLAHAN RIBBED SMOKED SHEETS (RSS)

admin

DISTRIBUSI BANTUAN/HIBAH BIBIT ITIK KAB. BANJAR TELAH RAMPUNG 100%

admin